Overdosis Suplemen Transportasi

 


Bagi beberapa orang yang memiliki masalah kekurangan asupan nutrisi, disarankan mengkonsumsi suplemen vitamin untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tubuhnya. Tubuh yang kekurangan asupan nutrisi akan mengalami penurunan daya tahan tubuh, dan dapat pula mengalami pengurangan efektivitas kerja organ.

Bagi masyarakat komuter yang hidup di kota-kota penyanggah Ibukota Jakarta tentu sudah sangat akrab dengan Ojek Online (Go-Jek, GrabBike, Uber, dll). Hadirnya Ojek Online di dalam sistem transportasi masyarakat kota penyanggah (Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi) disinyalir sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat penglaju (komuter) atas moda transportasi yang efisien bagi dirinya. 

Di awal hadirnya Ojek Online di antara moda transportasi perkotaan lainnya seperti Angkutan Kota (Angkot), Bus Kota, Taksi konvensional, TransJakarta, dan KA Komuter dapat dianalogikan sebagai “suplemen” transportasi perkotaan. Analogi ini diangkat dari imaji yang menggambarkan jalur transportasi bolak-balik JABODETABEK sebagai sebuah tubuh yang menghendaki terpenuhinya nutrisi agar kinerja kota tersebut dapat berjalan secara efektif. Moda transportasi massal konvensional seperti angkot bus kota, dan taksi, juga yang telah dimodernisasi seperti TransJakarta dan KA Komuter dapat dianalogikan sebagai “makanan alami” yang seharusnya berfungsi sebagai sumber optimum nutrisi bagi tubuh.

Sebagaimana penjelasan singkat pada paragraf pertama, konsumsi terhadap suplemen hadir akibat tidak terpenuhinya asupan nutrisi untuk tubuh dari makanan alami sebagai asupan nutrisi yang utama. Buruknya pelayanan moda transportasi konvensioanal selama bertahun-tahun menyebabkan turunnya rasa percaya publik sebagai pengguna transportasi, dan juga berdampak pada kefektifan sebuah kota.

Ketidak-jelasan jadwal keberangkatan, buruknya kondisi kendaraan, kerawanan pada tindak kriminal di atas kendaraan, ketidakdisiplinan pengendara, dan juga kelangkaan kerap kali terjadi. Lain lagi halnya pada moda transportasi massal yang telah dimodernisasi, meski terus melakukan perbaikkan setiap tahunnya, namun ketersediaan yang minim masih menjadi kendala utamanya. Padahal permintaan terhadap moda transportasi tersebut cukup tinggi. Kasus-kasus ini dapat dianalgoikan sebagai buruknya kualitas “makanan alami”, seperti kondisi beras yang tak bermutu, sayur-mayur dalam kondisi busuk, daging bangkai yang dijual kembali, serta kelangkaan pasokan makanan di pasaran. Bagaimana bisa sebuah tubuh mendapatkan nutrisi yang optimal jika makanan alami sebagai makanan pokoknya terus-terusan tidak dalam kondisi optimalnya?

Pada kondisi tubuh-kota yang kekurangan nutrisi-trasportasi seperti itulah suplemen-transportasi macam ojek online hadir. Mereka hadir untuk menawarkan perbaikan nutrisi agar kerja tubuh-kota dapat efektif. Masyarakat komuter terus-terusan mengkonsumsi suplemen-transportasi karena mendiagnosis dirinya yang sedang kekurangan nutrisi dari makanan alaminya.

Namun, masalah mulai timbul di kemudian hari. Asupan suplemen-transportasi sedikit demi sedikit menggantikan makanan alami untuk pemenuhan kebutuhan nutrisinya. Publik komuter yang merasa asupan nutrisinya terpenuhi oleh suplemen-transportasi mulai meninggalkan transportasi-massal-konvensional. Lebih baik mengkonsumsi suplemen tinimbang makan makanan alami yang tidak kunjung membaik kondisinya. Sayur busuk tentu membahayakan tubuh.

Sebagaimana suplemen-makanan yang merupakan produk yang melalui proses kimiawi -berkebalikan dengan makanan alami- tentu memiliki lebih banyak efek samping terhadap tubuh, apalagi bila dikonsumsi secara berlebihan dan berterus-terusan, atau biasa disebut seabagai overdosis dan hipervitaminosis. Tubuh-fisik yang mengkonsumsi suplemen secara berlebihan (overdosis) akan mengalami kerusakan organ dalam, mengurangi kemampuan kognitis, dan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian.

Suplemen-transportasi yang dikonsumsi secara berlebihan, atau bisa dikatakan dalam kondisi overdosis, tentu membawa dampak buruk bagi tubuh-kota. Kemacetan yang bertambah parah akibat semakin banyaknya kendaraan  yang standby di jalan raya, lumpuhnya jalanan perkotaan, rusaknya jalan-jalan perkotaan akibat beban berlebih dari jumlah kendaraan yang semakin banyak, merupakan contoh-contoh dari efek samping overdosis suplemen-transportasi. Belum lagi efek sosio-kultural yang ditimbulkan oleh overdosis suplemen-transportasi, yang meski tidak terlihat secara langsung namun bahaya yang besar dapat meledak sewaktu-waktu, bagaikan bom waktu.

Tubuh-kota yang mengalami overdosis suplemen-transportasi tidak lagi mampu berkinerja secara efektif. Mengalami penurunan kualitas produksinya. Hingga pada akhirnya akan menyebabkan kematian tubuh-kota itu sendiri.

Para ahli gizi menyatakan bahwa konsumsi suplemen dapat memberikan manfaat bila digunakan atas saran dokter gizi yang telah mendiagnosis kekurangan nutrisi pada tubuh. Dokter gizi yang tentu memiliki otoritas keilmuan dalam mendiagnosis kekurangan asupan nutrisi tubuh dapat dipastikan akan meberikan anjuran yang tepat bagi tubuh pasiennya.

Begitu pula suplemen-tansportasi, seharusnya diawali dengan analisa atau diagnosa permasalahan sehingga kemudian dapat diaplikasikan suplemen-transportasi pada batas kewajarannya. Dokter gizi-transportasi, yang dalam hal ini dapat dimaknai sebagai para stakeholder dan atau pemangku kebijakan yang berkeahlian dalam bidang transportasi perkotaan perlu sesegera mungkin turun tangan. Hindari silang sengkarut antar “Dokter gizi” yang hanya menambah keruh kondisi tubuh-kota.

Sayangnya, publik komuter mengkonsumsi suplemen-transportasi tidak atas anjuran Dokter gizi-transportasi, melainkan atas anjuran Sales obat suplemen!. Sales obat yang seringkali berorientasi kepada laba/ keuntungan penjualan obatnya ketimbang kesehatan para konsumennya. Semakin banyak publik komuter mengkonsumsi suplemen-transportasi, semakin untung para Sales obat tersebut. “Persetan dengan kesehatan tubuh-kota!”  ujar sales obat suplemen-transportasi.

Kepadatan jalan raya saat Rushhour


Para pemangku kebijakan transportasi, yang di dalamnya terdapat para Dokter gizi-tansportasi harus segera duduk bersama untuk kemudian menganalisa dan memberikan dosis yang tepat terhadap suplemen-transportasi. Perlu segera dicanangkan Transportasi terintegrasi dengan penempatan ojek online pada porsinya, dan pembuatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk moda transportasi massal darat konvensional. SPM ini bersifat mudah dipahami juga terbuka untuk publik, agar publik sebagai pengguna layanan transportasi tahu akan hak-haknya. Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi penyelenggara layanan publik (dalam hal ini semua moda transportasi darat perkotaan) sebenarnya telah di atur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Jika hal ini tidak kunjung direalisasi, maka kekacauan yang timbul dari overdosis suplemen-transportasi akan mengakibatkan komplikasi berbagai penyakit perkotaan yang berujung pada matinya tubuh-kota.

....


Sebenarnya, jika kita amati secara lebih mendalam, akar permasalahan dari transportasi Ibukota dan kota-kota penyanggahnya adalah ketimpangan terhadap pengendalian sumber daya. Adanya konsentrasi terhadap sumber daya ke dalam satu titik yang sedikit demi sedikit membuka jurang pemisah atau ketimpangan yang semakin lebar, antara pemilik modal atau pengendali sumber daya yang hanya segelintir itu dengan masyarakat kelas menengah hingga menengah ke bawah yang jumlahnya jauh lebih banyak. Semakin jauhnya masyarakat kelas menengah untuk mendapat akses terhadap sumber daya tentu saja menuntut semakin panjangnya transportasi yang harus dilaluinya. Ketimpangan ini harus segera diselesaikan secara seskama.

Dan bila kita amati lebih jauh ke dalam akar permasalahannya, adalah kehidupan yang serba duniawi sebagai sebab dari semua kekacauan ini. Kehidupan duniawi yang menegasikan kehidupan setelah dunia (kehidupan akhirat) telah dinyatakan secara jelas oleh Rasulullah SAW sebagai sumber kehancuran ummat. Seyogianya kita kembali meneguk spiritualitas yang menyeluruh agar dapat memahami hakikat kehidupan ini. Agar kita menjadi manusia yang adil dan beradab serta memiliki hikmah, yang dengan begitu maka kebahagiaan (sa’adah) akan tercapai.

Wallahu’alam bishawab


Yahya Wido Aditama
Bekasi, 1 Ramadhan 1438 Hijriah (27 Mei Masehi).

Kepada KAI; Sebuah Mimpi


Sejauh ini, Komunitas Arsitektur Islam atau yang sering disebut KAI memang masih belum berhasil dalam perjuangan strukturalnya. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan-kemungkinan lainnya yang masih patut untuk diperjuangkan. KAI dibentuk oleh teman-teman arsitektur UMS dengan tujuan memberikan wadah kepada para mahasiswa penggiat arsitektur Islam. Dalam perjalanannya, KAI mengalami perkembangan visi dan misinya. Dengan bantuan serta bimbingan para ustadz, dosen  dan komponen pengarah lainnya KAI telah sukses melakukan kajian-kajian rutin, bedah film, hingga seminar lintas disiplin ilmu. Saya bersyukur teman-teman di KAI telah begitu semangat dan serius untuk terus aktif menggiatkan pengkajian arsitektur Islam. Dengan tidak menyampingkan pencapaian-pencapaian KAI sejauh ini, ada beberapa harapan saya pribadi sebagai anggota KAI cabang Bekasi  (hehehe) kepada teman-teman yang masih aktif mengurus komintas ini di kampus UMS tercinta.

Sejak awal diinisaikannya komunitas ini, bukannya tanpa perencanaan, teman-teman sudah mencoba untuk memberikan arah gerak KAI kedepannya. Dirasa perlu dibuat rel yang jelas agar pergerakan KAI ini lebih terarah. Saya mencoba memberikan tiga strategi yang seharusnya dapat dicakup oleh Komunitas Arsitektur Islam. Tiga strategi ini yang kurang lebih juga digunakan oleh ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di awal pergerakannya dahulu.Tiga strategi tersebut yaitu  strategi struktural, strategi kultural, dan strategi mobilitas sosial (dalam lingkup KAI menjadi strategi mobilitas mahasiswa muslim).

Strategi Struktural. Strategi ini identik dengan pergerakan politik, perebutan kekuasaan. Tetapi bukan itu yang saya maksud. Tidak ada keinginan untuk menyarankan KAI agar berafiliasi dengan salah satu parpol atau orpol. Saya rasa itu tidak ada gunanya. Strategi struktural yang dilakukan oleh KAI bukan dalam rangka memperebutkan kekuasaan, tetapi lebih kepada pergerakan-pergerakan dalam struktur atau ‘legal standing’ komunitas ini untuk menjamin keberlangsungan tujuan utama dari KAI, yaitu pengkajian ilmu arsitektur Islam. Kita harus realistis, seringkali agenda-agenda KAI terhambat dikarenakan ketidak jelasan ‘legal standing’ komunitasnya. Diharapkan strategi ini mampu memberikan kejelasan keberadaan KAI, seperti misalnya posisi KAI dengan KMTA UMS, KAI dengan PSAI, KAI dengan Jurusan Arsitektur UMS, bahkan kedepanya KAI dengan peer group di luar sana yang tentu jalurnya adalah struktural. KAI bisa menjadikan IMAMUPSI (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi) sebagai contoh gerak strategi strukturalnya.

Strategi Kultural. Strategi ini memberikan arah gerak KAI dalam usahanya melakukan ‘penyadaran’. Berusaha untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku mahasiswa arsitektur, baik yang sudah ataupun belum tergabung dalam KAI, agar menyadari bahwa keilmuan arsitektur Islam atau Islamisasi arsitektur sangat mendesak dan diperlukan. cara-cara penyadarannya dapat berupa kajian-kajian rutin, bedah topik, seminar, FGD, publikasi tulisan, dan lain sebagainya. Dalam strategi kultural ini, tentunya KAI tidak dapat bekerja sendiri dan harus bahu membahu dengan komponen mahasiswa lainnya seperti yang dulu-dulu pernah dilakukan bersama FSIKI, Forum Istiqomah, dan masih banyak lagi. Dari sinilah terlihat bahwa antara strategi kultural dan struktural tidak bertentangan tetapi komplementer. Berbeda dari strategi struktural yang cenderung jangka pendek, strategi kultural ini untuk sesuatu dalam jangka panjang. Dibutuhkan napas panjang dan keistiqomahan untuk bergerak di dalamnya. Masalah yang timbul selanjutnya adalah periode seseorang anggota KAI dapat intensif di dalam komunitas ini. 2 hingga 3 tahun yang merupakan jenjang intensif seseorang dalam komunitas bisa dirasa terlalu pendek jika tidak dilakukan pematangan rencana. Harus dibuat target-target yang berjangka 2 atau 3 tahun sekali sehingga terlihat tongkat estafet kepada juniornya. target 2 atau 3 tahun ini patut didukung oleh pencapaian-pencapaian jangka pendek (1 hingga 2 semester) untuk mendukung visi yang jauh kedepan, yaitu mandirinya keilmuan arsitektur Islam.


Kajian rutin Arsitektur Islam dengan pengampu Pak Andika Saputra S.T, M.T



Strategi Mobilitas Mahasiswa. Untuk melestarikan momentum yang telah tercipta, diperlukan strategi lain, yaitu SDM . KAI yang berisikan mahasiswa-mahasiswa muslim harus menyadari posisinya sebagai bagian dari mahasiswa, juga bagian dari umat. Kedepannya, KAI bersama dengan yang lainnya bahu membahu menciptakan knowledge society yang berdasarkan imtaq dan iptek yang turut serta dalam long march umat menuju masa depan kejayaan Islam. Dalam lingkup kecilnya, KAI yang berisi mahasiswa arsitektur sebagai representasi mahasiswa UMS harus mampu mengawal, pembangunan kampus contohnya, agar aspirasi mahasiswa dapat didengar oleh para pembuat kebijakan pembangunan kampus, yang cenderung satu arah. Memanfaatkan daya kritis teman-teman mahasiswa sebagai bagian dari mobilisasi. Dalam lingkup lebih luas, lingkup bernegara, KAI wajib turut serta mengawal agenda-agenda pembangunan negara agar sesuai dengan kaidah-kaidah arsitektural yang berasaskan keislaman. Strategi mobilitas mahasiswa ini memadukan antara kemampuan individu dengan usaha kolektif.


Sekali lagi, ketiga strategi di atas tidak berlaku mutually exclusive, tetapi komplementer. Saling melengkapi. Seringkali organisasi atau komunitas keilmuan gagal menyadari hambatan-hambatannya sehingga hanya bergerak dalam satu lingkup strategi sehingga berat yang dirasakan.

Dalam agenda-agendannya nanti, KAI yang berpayung dibawah Universitas Muhammadiyah Surakarta juga harus menggunakan etika profetik sebagaimana yang telah diinisiasi oleh kampus. Seperti kita tahu bersama, baru-baru ini banyajk dipasang plang berisikan etika profetik yang tentunya bertujuan agar etika profetik dapat menjadi dasar dari segala gerak civitas akademiknya. Humanisasi, liberasi, serta treansendensi adalah pokok dari etika profetik sebagaimana penafsiran Dr.Kuntowijoyo terhadap QS.Ali Imran ayat 110. Amar ma’ruf, nahiy munkar, tu’minuuna billah. KAI harus bergerak dengan berdasarkan ketiga etika profetik tersebut. Sekiranya bagaimana KAI tidak hanya bergerak pada level “abstrak”, tetapi juga level “konkret” seperti pendampingan masyarakat pinggir sungai yang termarjinalkan di Solo, pemberdayaan masyarakat sekitar kampus, dan aksi-aksi lainnya yang tentu saja membawa semangat profetik. Mengenai bagaimana menafsirkan arah gerak berdasarkan etika profetik, dirasa perlu meminta bantuan dari para guru dan pembimbing.

KAI yang juga masih berdiri di dalam lingkup Jurusan Arsitektur UMS diwajibkan untuk turut menyukseskan visi misi Jurusan seperti pengembangan Arsitektur Islam secara professional, ilmiah dan berkelanjutan di tingkat makro, meso dan mikro. KAI wajib menjaga hubungan baiknya dengan Jurusan. Harus meminimalisir friksi-friksi yang terjadi diantara keduanya. Membentuk mahasiswa yang beradab dalam tindakan sebagai salah satu tujuan KAI tentunya dapat terlihat ketika melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para dosen. Karena sebelum mengislamisasi ilmu, diri ini yang diliputi oleh pandangan alam harus pula sudah ‘terislamkan’. Karena syarat untuk mencapai hikmah adalah pengetahuan yang benar (ilmu), tindakan yang benar (adab), dan keadaan yang benar (adil).

Cukup begitu kiranya, harapan-harapan saya sebagai anggota KAI cabang Bekasi :-p . Mohon maaf bila harapan-harapan ini dirasa begitu jauh mengawang-awang. Tetapi dengan melihat keseriusan dan kompetensi teman-teman yang masih intensif bergerak di KAI, saya yakin mimpi-mimpi ini dapat terwujud. Sekali lagi mohon maaf karena selama intens di KAI belum dapat berkontribusi banyak, dan sekarang ada jarak geografis yang memaksa kita tidak bisa seromantis dulu lagi. Sukses terus KAI, sukses terus mahasiswa muslim, sukses terus umat muslim Indonesia.

Jayalah umatku, jayalah negriku.  Cintailah ploduk-ploduk endonesah...
Akhirulkalam, wassalmualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

om... teloletnya om...

Persidangan Jesicca & Banjir Bandang Informasi


Beberapa hari yang lalu sempat kita disuguhi kembali oleh ramainya pemberitaan mengenai persidangan lanjutan kasus pembunuhan Mirna dengan tersangka Jesicca Wongso. Sidang lanjutan yang diadakan pada hari Senin (15/8) lalu ini menyedot perhatian banyak media pemberitaan nasional yang lalu menjadikannya topik utama. Bahkan, beberapa TV nasional menyiarkan jalannya persidangan tersebut secara live. Saya dapati, setidaknya terdapat dua TV Nasional yang menyiarkan jalannya sidang lanjutan tersebut secara penuh dan live, sedangkan TV Nasional lainnya menyiarkan pada acara berita selingan yang rutin disiarkan setiap satu jam sekali atau pada acara berita lainnya. Pun begitu yang terjadi pada situs-situs berita yang berbasis di internet yang pada hari itu ramai-ramai menaikkan berita tersebut sebagai topik utama.


Kasus pembunuhan Mirna menjadi kasus pebunuhan terheboh dan paling menyita perhatian publik tahun di tahun 2016 ini. Hingga sidangnya yang keduabelas senin kemarin, kasus pembunuhan ini sudah berkali-kali menjadi topik utama di berbagai media pemberitaan. Tidak hanya berita-berita utama investigasi pembunuhannya, berita-berita turunan yang relevansi dengan investigasi pembunuhan tidak terlalu kuat pun banyak diangkat oleh situs-situs media pemberitaan online. 

Pemberitaan terdakwa di media online
Boomingnya kasus pembunuhan ini, tentu membuat kita bertanya-tanya, ada kepentingan apa masyarakat luas disuguhi dengan pemberitaan kasus tersebut secara terus menerus ? Apakah akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat ? Seberapa pentingkah kasus ini hingga bahkan menenggelamkan kontroversi Bom Sarinah atau kasus sindikat narkoba yang dibeberkan oleh  Freddy Budiman yang menyeret institusi/lembaga tinggi negara ? Mengapa ia dijadikan isu publik ? Akankah negara kolaps bila dalang di balik kasus ini tidak diketahui oleh publik secara luas ? Bisakah Indonesia kembali menjadi ‘macan asia’ bila masyarakatnya telah mengetahui seluk beluk kasus pembunuhan tersebut ?

Dalam era Informasi seperti saat ini kita disuguhi, yang oleh Al Gore disebut sebagai, jalan raya informasi (Information Superhighway atau Infobahn). Teknologi informasi, yang telah meningkat begitu pesat setelah hadirnya televisi juga internet, memberikan kita kemudahan dalam mendapatkan berbagai informasi sehari-hari. Mulai dari pemberitaan lahirnya seekor anak Badak Bercula Satu di Taman Safari, hingga kasus korupsi berjumlah miliaran rupiah oleh anggota dewan pun dengan mudah kita dapatkan. Jalan raya informasi menyuguhkan keberlimpahan informasi. Keberlimpahan informasi di abad 21 ini, yang oleh Yasraf Amir Piliang diasosiasikan dengan kejadian banjir bandang pada zaman Nabi Nuh, yang kemudian ia sebut sebagai banjir bandang informasi.

Jalan raya informasi menyuguhkan kita kepada informasi dalam kecepatan tinggi yang terjadi secara simultan. Timbul-tenggelam di jagat raya informasi. Jibunan informasi hadir kepada kita tanpa adanya filtrasi. Ia hadir dari segala arah yang memaksa kita untuk ‘mengkonsumsi’ tanpa tahu kegunaannya. Walau telah hadir teknologi cookie yang memungkinkan perangkat pintar kita memilah berita untuk ditampilkan berdasarkan jejak pencarian yang kita lakukan di internet, tapi hal itu tetap saja sebuah bentuk desakkan informasi kepada diri.

Paul Virilio yang menggagas Dromology menyatakan bahwa segala kecepatan yang sedang kita ‘nikmati’ ini mengubah realitas dan cara kita menanggapinya. Kini, yang terjadi adalah kecepatan informasi tidak sebanding dengan kemampuan manusia dalam menyerapnya. Informasi itu datang begitu cepat dan begitu raksasa, sehingga kadang terlalu cepat dan besar untuk dapat diserap oleh pikiran manusia. Dalam bom informasi seperti itu, tidak semua informasi yang datang tersebut dapat berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Apa gunanya informasi tentang persidangan Jesicca Wongso terhadap seorang petani di Temanggung yang serbuan informasinya menyeruak melalui layar televisi di ruang tamu rumahnya? Apakah dengan terbongkarnya kasus pembunuhan Mirna akan menghindarkan petani itu dari gagal panen akibat kekeringan atau hama wereng ?. Bill McKibben mengatakan kita sedang berada di “sebuah abad informasi yang melenceng”.

Dalam gencarnya pemberitaan kasus persidangan Jesicca tersebut, tanpa didampingi usaha mengkritisi diri, yang berlangsung sesungguhnya bukanlah peningkatan informasi melainkan misinformasi dan disinformasi. Zygmunt Baumen berpendapat bahwa “masalah kondisi kontemporer adalah bahwa masyarakat telah berhenti mempertanyakan dirinya sendiri”. Kita tidak lagi pernah mempertanyakan diri sendiri tentang informasi apa yang dibutuhkan. Publik cenderung pasif ketika berhadapan dengan serbuan informasi, namun menjadi reaktif ketika telah menerima informasi tersebut sehingga menghasilkan turunan-turunan berita yang dapat dijadikan bahan obrolan ringan (baca: gosip) dengan teman seperkumpulan.

Kasus pembunuhan Mirna ini sepertinya memiliki potensi untuk ‘digosipkan’. Sebagaimana yang ditulis oleh Richard Shears, jurnalis di Daily Mail Australia, kasus pembunuhan ini mirip cerita dalam novel detektif karya Agatha Christie. Ada kecocokan dengan tipikal penonton televisi Indonesia yang menyukai opera sabun dengan bukti begitu menjamur di pertelevisian Indonesia. Maka tak heran bila beritanya dijadikan isu publik, karena kasus tersebut mengandung unsur drama ala sinetron. 

Tentu saja ada motif bisnis (selain motif politik, tentunya) yang melatarbelakangi naiknya sebuah isu di media-media mainstream. Media pasti berkilah bahwa inilah yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat sehingga perlu untuk diangkat menjadi topik utama/isu publik. Padahal ada motif mengejar rating dibelakangnya. Sejatinya, sebagaimana Kang Azeza dalam dalam tulisannya “Selera Penonton Televisi: Membentuk atau Dibentuk”, tidak ada yang salah dari konsep bisnis media itu sendiri, tapi masalah muncul ketika televisi sebagai media yang bersentuhan langsung dengan public domain mengabaikkan tanggung jawabnya dan lebih terfokus pada semangat kapitalisme.

Dalam banjir bandang informasi seperti saat ini, dan dampaknya yang menghasilkan gejolak-gejolak itu, kemudian timbul pertanyaan ontologis. Apakah informasi itu digunakan manusia, atau malah informasi yang 'menggunakan manusia' ? Apakah informasi dikendalikan manusia, atau malah informasi itu yang 'mengendalikan' manusia ? Apakah informasi itu ada untuk manusia, atau malah manusia 'ada' untuk informasi ?

"...Djanganlah pada sangkamu akan kahidupan negeri-negeri jang besar lebeh baik deripada perdijaman dinegeri ketjil. Benarlah kehidupan negeri-negeri besar itu ramei, lebih sedap, tetapi djanganlah bersangka kahidupan itu senang, seperti kami dapat merasa dinegeri ketjil, karena dalam negeri besar itu lakunja orang hidup disitu saolah-olah menghambat saorang akan saorang tidak dapat kasenangan dan perhentijan dan tempoh pada pertimbang-menimbang akan perkata fikiran jang ditinggi. “ Surat Kabar Thahaja Sijang No. 3 Maret 1899


Yahya Aditama
Surakarta, 18 Dzulkaidah 1437 H (21 Agustus 2016 M)

Bihun dan Kapitalisme Mutakhir


Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh berita beredarnya jajanan bihun kemasan. Jika dilihat dari isinya, tidak jauh berbeda dengan jajanan “Mie Gemez” yang pernah saya konsumsi sewaktu kecil dulu. Jajanan ringan berbentuk mie kriting yang siap santap tanpa direbus terlebih dahulu. Namun, ada yang lain dari jajanan ini sehingga ramai diperbincangkan orang. Jajanan ini diberi nama ‘Bihun Kekinian’, yang disingkat menjadi “BIKINI”. Selain akronimnya yang cukup kontroversial, desain kemasannya pun ramai diperbincangkan publik. Lihat saja, pada bungkus bagian depan terpampang animasi yang tidak pantas untuk dikonsumsi anak kecil. Belum lagi tagline-nya yang terkesan cukup nakal, “Remas aku...”, yang maknanya pun ambigu; dikaitkan dengan bihunnya atau ‘gambar pada kemasan’ (?).


Kemasan Snack BIKINI

Fenomena ini mengundang tanggapan dari berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat umum, lembaga perlindungan anak, hingga Kapolda Jabar pun memberikan sikap dikarenakan tempat produksi jajanan tersebut (sebagaimana tercantum pada kemasan) berada di Bandung, wilayah kerjanya. Bahkan, Wakil Ketua Komisi II DPR Sodiq Mujahid, mengatakan bahwa ini adalah bentuk pemanfaatan demokrasi yang kebablasan (Republika, 05/08). Keseluruhannya memberikan sikap ‘ketidak-setujuan’ atas bentuk ‘kreativitas’ yang salah arah ini.

Apa yang melatar belakangi strategi yang diusung oleh produsen dari Bihun Kekinian ini ? Adalah kebudayaan kapitalisme global yang telah mengkonstruksi sebuah realitas sosial baru. Dalam kapitalisme, sebagaimana yang dicetuskan oleh Adam Smith (dalam Piliang, 2004) mengenai pasar bebas meniscayakan persaingan bebas. sebab persaingan bebaslah yang membuat kapitalisme itu berjalan. Setiap orang harus menanamkan di dalam dirinya motif mencari keuntungan dan mengumpulkan kekayaan (kepemilikan pribadi), sebab kekayaan itu perlu untuk kesuksesan usaha. Akan tetapi, dewasa ini kapitalisme berkembang menuju titik ekstrem yang bahkan tak terbayangkan oleh Karl Marx dalam kritiknya terhadap sistem kapitalisme. Kapitalisme global sudah menjadi Kapitalisme Mutkahir.

Kapitalisme mutakhir, telah melampaui pandangan Adam Smith tentang pasar bebas. Menurut Adam Smith, meskipun pasar bebas mensarati persaingan bebas namun setiap orang harus menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi (motif persaingan, keuntungan, dan pengumpulan kekayaan) dengan panggilan hati nuraninya akan kebaikan dan perbuatan mulia. Pandangan inilah yang dikritik oleh Yasraf (2004) karena hanya bersifat utopis semata. Bila persaingan bebas dianjurkan, misalnya, apakah caranya juga bebas ? Apakah kita dapat menggunakan setiap strategi, segala taktik, dan semua trik persaingan ? Bagaimana kita berhadapan dengan trik-trik persaingan, lewat iklan, lewat bujuk rayu, lewat iming-iming, lewat erotisme, lewat komodifikasi tubuh yang sarat dengan persoalan-persoalan sosial ? Cukup tegarkah nurani para kapitalis dalam membendung cara-cara persaingan yang justru telah berperan besar dalam menciptakan dekadensi moral dan kematian sosial ?

Kapitalisme mutakhir telah melepaskan dirinya dari kriteria moral/amoral, baik/buruk, nilai guna/tukar, atau yang disebut oleh Jean Francois Lyotard sebagai Ekonomi Libido. Kapital memanfaatkan gairah yang tersimpan dalam diri setiap konsumen tanpa takut akan tabu dan adat. Kebudayaan kapitalisme mutakhir seperti inilah yang bahkan tidak terbayangkan oleh Marx yang lebih mengkritik Kapitalisme dari relasi produksinya, relasi antara pemilik modal (kaum borjuis), para buruh (proletar), dengan alat-alat produksinya. Kapitalisme telah jauh bergerak ke arah semiotika komiditi. Bihun itu biasa saja, sudah banyak yang menjualnya di pasaran. Untuk membuatnya berbeda demi meningkatkan penjualan dan keuntungan maka batas-batas moral harus dilewati, hasrat harus digenjot. Sensualitas lah jawabannya. Gambar yang tak pantas bagi budaya timur telah ditampilkan sebagai komoditas.

Dampak dari citraan seksualitas yang diciptakan salah satunya adalah hancurnya batas-batas sosial. Anak-anak (yang bisa jadi merupakan target penjualan produk jajanan BIKINI) yang terpaparkan oleh media-media yang menampilkan seksualitas (rahasia yang sebelumnya dijaga oleh para orang tua dari anaknya), maka dunia anak-anak secara sosiologis tidak bisa dibedakan dari dunia orang dewasa. Batas sosiologis antara keduanya telah lenyap. Anak-anak sebagai suatu kelompok sosiologis telah lenyap. Kita lihat akhir-akhir ini  banyak anak SD atau SMP telah “menjalin kasih” (baca: berpacaran) dengan teman sebayanya, yang sepantasnya hanya dilakukan oleh pasangan yang telah terikat janji pernikahan. Mereka menjadi konsumen bisu yang terus menerus dicekoki oleh kapital dengan tanda yang mereka pun tak pahami sepenuhnya.

....

Terlepas dari itu semua, dan bagian terpentingnya adalah pendapat saya tentang jajanan BIKINI ini. Dengar-dengar jajanan BIKINI ini di banderol seharga Rp 15.000 per bungkusnya. Belum lagi biaya tambahan untuk ongkos kirimnya, karena memang produk ini dijual secara online. Walah, kalau saya, dengan duit lima belas ribu mending buat beli Indomie, bisa dapat 7 bungkus. Atau untuk beli nasi kucing, bisa dapat 10 bungkus. Atau... saya belikan Mie teksek plus Es Kapal yang terkenal di THR Sriwedari, itupun masih kembali lima ribu rupiah.

Es Kapal THR Sriwedari

Yahya Aditama
Surakarta, 03 Dzulkaidah 1437 H (06 Agustus 2016 M)


Powered by Blogger.

Followers